Saturday, 19 November 2011

LeLaKi TaNpA hAtI...


Dengan nama Alah saya mulakan’



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Apakah anda pernah mendengar tentang lelaki tanpa hati?. Maaf, jika hati yang dimaksud adalah salah satu anggota tubuh dari daging yang berwarna merah, yang menarik dan melepaskan darahnya, tentu saja lelaki itu memilikinya. Yang dengannya dia dapat hidup dan menjalani kehidupannya. Akan tetapi hati yang bersemangat, kuat dan hidup, sayang sekali dia tidak memilikinya.
Dia mengetahui kebaikan meskipun kecil, dia juga mengetahui tempat-tempat keburukan meskipun samar-samar.
Seringkali dia merasa benar jika membaca perilaku seseorang dari wajahnya dan dia juga dapat memberi isyarat akan hal itu. Akan tetapi, dia tidak memiliki hati. Jika bertemu dengan teman lamanya yang tidak bersua, dia menyalaminya dan menggenggam tangannya dengan kuat, bahkan memeluknya. Namun, hatinya tetap beku, sama sekali tidak terpengaruh, Dia memberi nasihat kepada orang lain, “Jadilah kalian begini dan jadilah kalian begitu”, serta menyebutkan berbagai dalil dan alasan, namun hatinya semakin keras dan tidak terpengaruh.
Dia tersenyum kala menerima berita gembira. Dia juga mengernyitkan dahi saat menerima berita duka. Akan tetapi, kegembiraan dan kesedihannya hanyalah reaksi alami, sedangkan hatinya tetap diam dan tidak tergoncang.
Dia menyatakan cinta dan benci kepada seseorang. Ketika melihat hatinya, hatinya tetap diam tanpa memberi penjelasan.
Dia berdiri menunaikan salat dan berusaha kusyuk, membaca al-Quran dan berusaha memusatkan perhatiannya. Ketika meunaikan solat, membaca bacaan salat dengan nada-nadanya, sehngga orang-orang pun berkata, “Dia tipe orang yang kusyuk”. Akan tetapi, ketika meraba hatinya, dia mendapatinya tuli dan tidak kusyuk, walaupun memahami apa yang dibaca.
Ini adalah gambaran yang sebenarnya terjadi pada hati lelaki tersebut. Saya tidak melebih-lebihkan atau menguranginya. Menurut anda, apakah anda dapat mengatakan bahwa hatinya sama seperti hati orang-orang pada umumnya?.
Saya dianugerahi akal, tetapi hati saya hilang. Saya meraskan pikiran saya menyala-nyala, bekerja, hidup dan menunjukkan keberadaannya. Akan tetapi, ketika saya ingin merasakan hal itu pada hati saya, sama sekali tidak menemukannya. Saat ini, anda telah mendengar tentang seorang lelaki yang tidak memiliki hati.
Dia adalah seorang pemuda yang membaiat anda dan anda mengambil sumpah setia darinya. Apakah anda rela seorang tentera anda hidup tanpa hati? Apakah anda dapat membantu menghidupkan hatinya agar bergerak dan merasakan apa yang diucapkan oleh lisannya.
Ini adalah penyakit salah seorang tentera Anda yang akan membuat Anda sedih jika mengetahuinya. Oleh kerana itu, saya tidak menyebutkan namanya, hingga saya memberitahu Anda akan kesembuhannya.



dan ini jawapan daripada Al Imam As Syahid Hassan al-Banna

Imam al Banna menulis,
Saudaraku.
Wa’alakumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Saya telah membaca surat mu dan sangat terpengaruh oleh kejujuran bahasamu, keindahan keberanianmu, lembutnya kesedaranmu, dan hidupnya hatimu
Saudaraku, engkau bukan orang yang hatinya mati seperti yang engkau hina. Akan tetapi engkau adalah orang yang perasaanya tajam, jiwanya bersih, dan nuraninya lembut. Seandainya tidak bersifat demikian, tentulah engkau tidak menuduh dirimu dan tidak engkau ingkari perasaanmu. Akan tetapi besarnya semangat dan jauhnya tujuan, membuatkanmu menganggap kecil urusanmu yang besar dan engkau mengharapkan tambahan untuknya. Tidak ada masalah dalam hal itu dan memang itu harus terjadi.
Saya merasakan apa yang engkau kira, saya berjalan sebagaimana engkau berjalan dan saya akan berusaha mengajukan beberapa nasihat. Jika nasihat-nasihat tersebut bermanfaat bagimu dan dengan melaksanakannya engkau lihat dapat menghapus dahaga serta mengobati sakitmu, maka alhamdulillah, atas taufikNya. Namun jika tidak demikian, maka saya senang untuk bertemu denganmu agar kita saling bekerjasama untuk mendiagnosa penyakit dan menentukan obatnya.
Berteman dengan orang-orang khusyu’ yang selalu merenung, berbaur dengan orang yang selalu berfikir dan menyendiri, dekat dengan orang-orang yang bertakwa dan soleh yang dari mereka terpancar hikmah dan dari wajah mereka terpancar cahaya, dan hati mereka bertambah dengan makrifat ( dan jumlah mereka adalah sedikit ) adalah obat yg manjur. Berusahalah berteman dengan orang-orang seperti mereka, selalu bersama mereka, kembali kepada mereka, dan engkau sambung ruhmu dengan ruh mereka, jiwamu dengan jiwa mereka serta engkau habiskann kebanyakan waktu kosongmu bersama mereka. Hati-hatilah dari orang yang ‘mengaku-ngaku’ . Carilah orang yang kondisinya membuatkan kamu bangkit, perbuatannya membawamu berbuat baik dan jika engaku melihatnya maka engkau mengingat Allah

Berteman dengan orang-orang seperti ini adalah salah satu obat yg paling manjur, kerana watak manusia sering mencuri, sehingga hatinya terpengaruh oleh hati dan jiwa pun mengambil dari jiwa. Oleh kerana itu, berusahalah untuk menemukan jiwa-jiwa yang soleh sebagai teman
Saudaraku, berfikir, berzikir di waktu-waktu yang bersih, menyendiri, bermunajat, merenungi alam yang indah serta menakjubkan, menggali rahsia keindahan dan keagungan dari alam, meneliti dengan hati dan berzikir dengan lisan tentang pengaruh keagungan yang mencengangkan serta hikmah yang agung ini, termasuk hal yang memberi kehidupan kepada hati dan menyinari pojok-pojok kalbu dengan keimanan dan keyakinan.
Allah swt berfirman
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”   (Ali ‘Imran [3] : 190 )
Saudaraku, selanjutnya berfikir tentang masyarakat, melihat berbagai penderitaan, kebahagiaan, kesulitan dan kemakmuran, serta menjenguk orang yang sakit, menghibur orang-orang yang tertimpa bencana dan mengenali sebab-sebab kesengsaraan yang berupa pembangkangan, kekafiran, kezaliman, pelanggaran, sikap mementingkan diri sendiri, egois, terpedaya oleh hal-hal yang semu, semua ini merupakan sentuhan bagi dawai-dawai hati yang menyatukan cerai berainya dan menghidupkannya dari kematian. Maka berusahalah agar keberadaanmu menjadi penghibur bagi orang-orang yang sengsara dan tertimpa bencana. Tidak ada hal yang pengaruhnya lebih kuat terhadap perasaan dari berbuat baik kepada orang-orang yang sangat-sangat membutuhkan, membantu orang-orang yang teraniaya atau membagi rasa dengan orang yang susah dan sedih.
Saudaraku, hati ada di tangan Allah. Dia mengubahnya sesuai dengan kehendaknya. Oleh kerana itu, bersungguh-sungguhl ah dalam berdoa, agar Dia memberikan kehidupan kepada hatimu, membuka dadamu dengan iman dan melimpahkan keyakinan kepadamu sebaga anugerah serta nikmat dariNya. Berdoalah di wakti-waktu mustajab dan waktu-waktu sahur. Kerana doa di waktu sahur adalah anak panah yang meluncur yang tidak berhenti hingga sampai ke ‘Arsy. Saya tidak meragukan keikhlasanmu dalam mencapai tujuan dan kejujuran dalam pengakuanmu.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa “ (Al Maaidah [5] : 27)
Saudaramu, Hasan al-Banna

saat berpisah...


Sebaik-baik penasihat ialah kematian. Namun, mana mungkin orang yang pernah mati datang kepada kita untuk menasihatkan? Mengingatkan mati, menakutkan. Manusia akan takut pada apa yang tidak diketahuinya.

Semuanya masih misteri. Hanya tinggal Al Quran dan Al Hadis untuk kita rujuk bagi mengetahui tentang kematian. Namun berapa kerat antara kita yang berbuat demikian… Cerita tentang kematian akan mematikan rasa kemanisan menikmati hidup ini. Dan akibatnya, mati terus mati dalam hidup kita!

Jika seseorang mengingati mati, akan mudah hatinya dilentur kepada makrufat dan makrifat. Jika mengingati kematian jiwa akan jeran dan bosan dengan maksiat dan sayyiat (perkara yang buruk). Jika mati itu hidup di dalam hati kita…kita akan mudah memberi dan meminta maaf. Kita akan mudah bersabar dan bertenang dengan karenah insan.  Nikmat dosa akan sirna dengan mengingati mati. Azab taat akan kecil bila teringat saat kembali.

Ketika hatimu jemu dengan ketaatan, mula tergiur dengan kemaksiatan… kenang-kenangkanlah SAAT BERPISAH

Saat perpisahan itu pasti tiba. Dan tidak ada masa yang sesuai untuk saat itu. Kita datang tidak diminta, kita pulang tidak diduga. Bila sanggup hidup, mesti sanggup mati. Bila sanggup datang, mesti sanggup pulang. Kita hanya menghabisi bilah-bilah hari yang telah ditentukan. Tujuan ke sini untuk diuji… tiba masanya pasti kembali!

Mengapa terlalu enggan untuk berpisah? Nikmat sangatkah dunia ini? Padahal senang dan susah bertukar ganti, suka dan duka datang dan pergi. Tidak ada yang kekal lama, semuanya bersifat sementara. Jika mati tidak memisahkan, kesenangan ini pun akan pergi jua. Kata mereka yang arif tentang kehidupan:
“Manusia lahir bersama tangisan, dicelahi kehidupannya oleh tangisan dan akan dihantar ke pusara oleh tangisan.”

Pernahkah ada kesenangan yang abadi dan hakiki? Tidak ada. Justeru, hiduplah berpada-pada. Hiduplah bagai musafir lalu yang singgah bagaikan dagang di rantau orang. Hatinya tetap merindui kampung halaman. Hiduplah bagai orang yang sedang menyeberangi satu jambatan. Tidak sudi berlama-lama kerana di situ hanya sementara. Kakinya melangkah kencang justeru jiwanya sudah di seberang.

Hidup mesti sederhana kerana dunia ini sementara. Sederhana itu bukan pada ringgit dan harta tetapi pada jiwa dan rasa. Jangan terlalu gembira, jangan terlalu berdukacita.

Tidak ada kesenangan yang tidak diiringi kesukaran dan tidak ada kesukaran yang tidak diiringi kesenangan. Selepas ketawa, pasti menyusul air mata. Selepas nestapa pasti kegembiraan menjelma. Allah memberikan kita terang… untuk bersyukur. Allah berikan kita gelap… untuk bersabar.

Jadilah insan lara yang temannya mujahadah dan taubat. Sentiasalah berusaha menjadi insan yang baik walaupun masih digamit oleh ghairah kejahatan dan dosa. Jatuh, bangun kembali. Jatuh, bangun lagi.

Ukirlah seribu taubat walaupun telah berkali-kali ia dimungkiri. Allah tidak akan jemu dengan taubat hamba-Nya selagi kita tidak putus asa kepada-Nya. Tempuhi jalan mujahadah sekalipun langkahmu pernah goyah. Jangan mengalah. Kau tidak akan kalah selagi tidak mengalah.

Luruskan jalan menuju Tuhan dengan tulusnya hati sesama insan. Elakkan hasad, jauhi mengumpat. Jika tidak mampu menambah, jangan mengurang. Jika tidak mampu menjulang, jangan menghalang. Ingat selalu kata hukama:
“Jika tidak mampu menjadi garam yang memasinkan ikan, jangan jadi lalat yang membusukkannya.”

Jika tidak dapat mengucapkan perkataan yang baik, banyakkan diam. Jika memberi nasihat dirasakan terlalu berat, cukuplah dengan menghulurkan doa dan munajat. Setiap kita mempunyai kelebihan. Kata orang, Tuhan tidak mencipta manusia cerdik sungguh… Tuhan mencipta manusia dengan kebijaksanaan berbeza.
Justeru, carilah apakah “kebijaksanaan” itu kerana itulah saluran kita untuk berbakti. Ketika rasa takut singgah oleh kebimbangan dijemput maut… katalah pada diri, bila berdepan dengannya kita akan lupa segala-galanya. Kesayangan yang kita takutkan kehilangannya, kecintaan yang kita bimbangkan perpisahan dengannya, akan menjadi sedebu bila berdepan dengan detik itu.

Kita akan terlupa akan jalan yang telah jauh kita tinggalkan di belakang kerana memandangkan jalan yang lebih jauh merentang di hadapan. Nikmat dunia akan kita lupakan sebaik sahaja melihat azab di akhirat. Dan azab di dunia akan kita lupakan setelah melihat nikmat di akhirat.

Sesungguhnya mati itu bukan satu pengakhiran tetapi ia satu permulaan kepada satu kehidupan yang lebih sejati dan hakiki. Mati itu hanya proses perpindahan – dari alam dunia ke alam barzakh. Sama seperti kelahiran – proses berpindah dari alam rahim ke alam dunia.

Ya, kalau sanggup datang. Mesti sanggup pulang. Hati sewajarnya sentiasa merasa bertemu tak jemu, berpisah tak gelisah. Bukankah kita bertemu untuk berpisah? Dan berpisah untuk bertemu? Semoga kembara kita di dunia akan tiba bersama di hujung destinasinya… syurga!

Pada kita, cuma pasrah…

PASRAHTuhan,
Pada Mu aku pasrah
akur, alah dan menyerah
Seluruhnya sudah pudar
cintaku kian tercalar

Tuhan,
Senjaku semakin dekat
Di sumur dosa aku melarat
di hujung umur kupasti kembali
sedang hatiku tak suci lagi

Tuhan,
Langkahku entahkan mati
mendaki kasihMu nan tinggi
namun cintaku bukan palsu
walaupun sering terganggu

Tuhan,
kekadang terasa sayang-Mu
bersama kurnia hidayah
kekadang terasa murka-Mu
seiring patahnya mujahadah

Tuhan,
terlerai ribuan taubatku
terungkai semua janjiku
kataku sering mungkir
CintaMu sering terpinggir

Tuhan,
Aku masih setia
mengemis di jendela usia
terus mencari wajah diri
menadah keampunan Ilahi!

15 bukti keimanan





"Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris lah.a berkata. Aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?"

Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"

Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk."

Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."

Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."

Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."

Thursday, 17 November 2011

mAlAM NiE 17 NoVeMbER...2011..

WaH....
mlm nie malam terakhir bg thn 2011 bersma ngan snior batch ke-8 SMATS...
ada jgak yg nangis...
cian....tnggal knangan lagi slama 5 tahun berada di bmbung smats ni????
pas ni kmi plak yg mgantikn mereka...batch 9..2012..
walau apa2 pon smoga mereka berjaya spm thun nie...
...........................................................................insyaAllah..................Amin......